Rabu, 11 Desember 2013

34. Vihara Bhakti Suci Kopeng. Ungkapan Bhakti dari Suci.


Suatu malam hari lebih dari tujuhbelas tahun lalu. Suci - isteri dari Joko Singgih Sugiarto tergolek lemah dalam keadaan koma - di kamar perawatan sebuah Rumah Sakit di Surabaya. Penderita diabetes akut ini sebelumnya telah dibawa berobat kemana mana - bahkan hingga ke manca negara - namun tiada hasil. 

Suaminya - Joko Singgih - merasa pupus harapan.  Dalam keheningan tengah malam - dengan hati galau - ia  melangkahkan kaki ke luar dan di halaman Rumah Sakit ia pun berdoa kepada Sang Penguasa Semesta memohon kesembuhan bagi isteri tercinta. Dalam doa yang dipanjatkannya itu  ia pun mengungkapkan isi hatinya bahwa ia akan membangun sebuah vihara apabila isterinya - Suci - mendapatkan kesembuhan.

Tak diduga - mujizat terjadi. Suci pun sembuh. Masih mengidap diabetes memang - namun nyawanya terselamatkan dan hingga hari ini - Suci masih dapat menunggui anak cucunya. Atas kesembuhan ini - Joko pun kemudian berusaha menepati janjinya. Ia akan segera membangun sebuah vihara.  Namun pada waktu itu - Joko tak lagi punya cukup uang. Dengan bekal tekad dan keyakinan demi memenuhi janji - Joko pun meng-anggunkan beberapa aset miliknya dan kemudian mempergunakan uangnya untuk membangun sebuah vihara - di salah satu tanah miliknya di Kilometer 12 di Jalan Raya Salatiga Kopeng - dan vihara yang dibangun itu kemudian diberi nama Vihara Bhakti Suci - sebagai sebuah Ungkapan Terimakasih dan Bhakti bagi kesembuhan Suci - isterinya.

Pembangunan vihara dimulai pada tahun 1996 dan selesai satu tahun kemudian pada tahun 1997. Segera setelah vihara selesai dibangun, Joko merasa bahwa peruntungannya membaik dan semakin membaik. Ia pun kemudian menjadi semakin yakin bahwa keputusannya untuk membangun sebuah vihara adalah sebuah keputusan yang tepat.

Isterinya - Suci - kini telah sembuh. Peruntungan Joko jauh membaik. Kini ia sungguh merasa telah mendapat berkah dari Sang Penguasa Semesta, dari sang Buddha dan dari sang Bodhisattva Avalokitesvara - Guan Shi Yin Pu Sa - yang kemudian di Altarkannya di Altar Utama Vihara yang dibangunnya itu.




 Gerbang Vihara 


Vihara tampak dari Jalan Raya


Vihara Tampak Samping


Vihara Tampak Depan - terlihat di ketinggian

Kho Kian Hien alias Hindarto Dayakasaba / Kepala Pengurus Vihara Bhakti Suci  pun merasa mengalami hal yang tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Joko - pemilik vihara.  Pria yang dilahirkan 55 tahun lalu ini kehidupannya merosot tajam belasan tahun yang lalu ketika ia pindah dari Semarang ke kota Salatiga. 

Namun - dalam kurun waktu 14 tahun ia membaktikan diri - ikut mengurusi vihara dengan  tanpa pamrih - kehidupannya berangsur membaik dan semakin membaik. Ia pun kemudian merasa yakin bahwa seperti halnya Joko Singgih - pemilik vihara - ia pun telah mendapatkan berkah dan keberuntungan dari pengabdiannya kepada vihara. 


 Kho Kian Hien - alias  Hindarto - Dayakasaba/Kepala Pengurus Vihara


Lain pula halnya dengan Tan Tjie Ming - Pengurus Rumahtangga Vihara - yang berpembawaan tenang, sabar - dan baik hati. Pria berusia 58 tahun asal Magelang ini mengaku bahwa sejak ia mengabdikan diri di Vihara mulai  4 tahun yang lalu - ia merasa bahwa ia telah memperoleh berkah ketenangan hidup dan kedamaian batin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini pula yang membuat pria yang telah puluhan tahun menjalani laku Ciak-Jay / memantang daging  ini  merasa mantap untuk terus mengabdi di Vihara Bhakti Suci - menjalankan tugasnya sebagai Pengurus Rumahtangga Vihara.  

 Tan Tjie Ming - Pengurus Rumahtangga Vihara 



Vihara Bhakti Suci ini terletak kira-kira di Kilometer 12 di Jalan Raya Salatiga - Kopeng   dan sudah sangat dekat  dari Kota Wisata Kopeng yang terletak kira-kira  di Kilometer 13 dari kota Salatiga. Lokasinya sungguh sangat strategis.  Vihara Bhakti Suci  berada di tempat yang cukup tinggi - untuk mencapainya kita harus menaiki puluhan anak tangga. Vihara berkedudukan di Selatan, menghadap ke Utara. Dari arah depan vihara - di sebelah kiri  - arah Timur agak di belakang vihara,  nampak cukup dekat Gunung Merbabu,  dengan Gunung Merapi berada tepat di belakangnya. Di sebelah kanan - arah Barat - nampak berjajar Gunung Andong dan Gunung Telomoyo. Sedang di arah Utara - arah depan Vihara - nampak di kejauhan Gunung Gajah - sebuah gunung kecil yang memang berbentuk seperti seekor gajah - lengkap dengan kepala dan belalainya. Bhakti Suci - vihara dengan luas area 2,8 hektar ini - memang sebuah vihara dengan pemandangan seputar yang sungguh indah. Dari depan vihara yang terletak di tempat yang cukup tinggi itu - sejauh mata memandang sekeliling - terpapar pemandangan indah gunung gunung - dan hijau rimbunnya pepohonan. 


 Gunung Telomoyo nampak di kejauhan di arah Barat Vihara


Gunung Merbabu  tertutup kabut nampak di arah Timur Vihara


Bangunan Vihara terdiri dari Teras di bagian depan. Di sini ditempatkan sebuah Hio-Lo Thian Gong berukuran besar. Di sebelah kiri - di halaman - ada sebuah Tempat Pembakaran berbentuk sebuah Hu-Lu besar.  Sedang di Ruang Utama Dharmasala - terdapat sebuah Altar Pemujaan Besar yang menyatu - dengan dua buah Rupang bersebelahan.  Rupang Sang Buddha dalam posisi mudra  Dharma Cakra Mudra - di sudut Naga di sebelah kanan dari arah depan, di sampingnya Rupang Sang Bodhisattva Avalokitesvara/ Guan Shi Yin Pu Sa  di sudut Macan di sebelah kiri dari arah depan. Rupang di sudut Naga berukuran lebih besar dibanding rupang di sudut Macan - demikian juga Hio-Lo / tempat dupanya.  Sang Buddha di sini - menurut saya dapat di tafsirkan sebagai Buddha Sakyamuni - sang Guru Agung Umat Manusia yang telah membabarkan Dharma - namun dapat pula dianggap sebagai representasi dari Buddha Vairocana - sang Maha Buddha - dilihat dari mudra pada rupangnya.

Tak dapat dipungkiri bahwa penataan Altar di Vihara Bhakti Suci ini memang terkesan unik. Ada Hio-Lo Thian Gong di Teras,  Rupang Sang Buddha dan Bodhisattva Avalokitesvara/ Guan Shi Yin Pu Sa  di Altar Utama Dharmasala.  Dan ada pula Sarana Pak Pwee  dan Ciam Sie  di  Altar Utama - dan juga ada sebuah Tempat Pembakaran Kertas Sembahyang/Kim Coa  di sebelah kiri Dharmasala.  Semuanya ini tentu memberi kesan unik dan tidak biasa. 

Saya sendiri mengambil posisi sebagai seorang Buddhis Non Sektarian - dan karenanya bagi saya - penataan Altar seperti ini tidak begitu menjadi masalah. 





 Hio-Lo Thian Gong di Teras depan Dharmasala Bodhisattva Avalokitesvara / Guan Shi Yin Pu Sa  dan Sang Buddha  di Altar Utama 






Tempat Pembakaran Kertas Sembahyang/ Kim Coa  di halaman sebelah kiri

Di arah depan Vihara - tampak di bawah karena lokasi vihara yang cukup tinggi - nampak sebuah Gedung Komplek Penginapan yang diperuntukkan bagi para umat/pengunjung yang ingin menginap di vihara. Komplek Penginapan ini mempunyai 11 kamar dan sebuah Ruang Makan besar.  Sedang di sebelah kiri vihara dari arah depan - agak di belakang ada satu bangunan Kuti - dua lantai - yang diperuntukkan bagi para Bhikkhu/Bhikksu/Bhikksuni yang datang berkunjung dan menginap di vihara.  Di sebelah kanan Bangunan Penginapan ada sebuah Bangunan untuk kegiatan Serba Guna. 

Bangunan Penginapan 

 Ruang Serba Guna di sebelah kanan Penginapan

Kuti dua tingkat - di sebelah kanan Dharmasala agak di belakang


Saya menginap di Vihara Bhakti Suci ini pada tanggal 16 - 17 Nopember 2013 yang lalu. Malam tanggal 16 adalah tepat saat Malam Purnama.  Malam Cap Go dalam tradisi Tionghoa.  Bertiga bersama dua teman - saya menginap dan menunggu saat jam 12.00 malam tepat - saat kami akan bersama berdoa/ Tiam Hio - dan kemudian melakukan Pradaksina sebanyak 6 kali mengelilingi Dharmasala - dengan arah berlawanan dengan arah jarum jam.  ( Dalam Tradisi Buddhis - setahu saya - biasanya Pradaksina hanya dilakukan 3 kali - dengan arah searah jarum jam - melambangkan penghormatan kepada Buddha, Dharma dan Sangha. )  Namun dalam hal ini - saya sekedar mengikuti saja teman yang mengajak saya - yang telah puluhan kali datang dan menginap di Vihara Bhakti Suci ini.

Teman yang mengajak saya ini ternyata juga punya pengalaman unik dengan Vihara Bhakti Suci ini. Seperti halnya pemilik vihara, Joko Singgih,  dan Dayakasaba  Kho Kian Hien - teman saya  juga merasa telah mendapat berkah dan pertolongan dari Vihara Bhakti Suci.  Karenanya ia kemudian jadi sering berkunjung  dan menginap di Vihara - telah puluhan kali - bahkan - dan kemudian ia juga mengajak teman dan sahabat untuk ikut bersamanya.  Saya sendiri baru sekali ini diajak ke sini - tapi teman yang lain - seorang pengusaha besar dari Jakarta telah diajak berkunjung tiga kali.   
___________

Ketika melakukan Pradaksina  - saya pun merenungkan masalah masalah kehidupan yang belakangan ini semakin berat menerpa hidup saya.  Segalanya memang terasa berat dan semakin berat. Dan perhatian saya pun kemudian lebih banyak tertuju pada Sang Avalokitesvara yang ada di Altar Utama Vihara ini. 

Bodhisattva Avalokitesvara. Guan Shi Yin Pu Sa.  Ia yang Melihat. Ia yang Mendengar.   Ia yang Menjawab Jerit Tangis Penderitaan Makhluk.  Demikian secara harafiah terjemahan dari Avalo - Kite - dan Svara  Bahasa Sansekerta ini. Avalo - Yang Melihat. Kite - Yang mendengar. Svara - Suara/Jerit Tangis Penderitaan Makhluk/Dunia.  Guan Shi Yin adalah terjemahan Bahasa Tionghoa nya.  Pu Sa berarti Bodhisattva. Guan Shi Yin ini dalam dialek Hokkian adalah Kwan She Im - nama resmi dari yang lebih banyak dikenal sebagai Mahadewi Kwan Im -  sang Mahadewi Cintakasih dan Welas-Asih.

Getaran Cintakasih dan Welas-Asih Semesta  yang direpresentasikan sebagai Avakokitesvara ini bagi banyak orang terasa menyejukkan. Ketika kita memikul beban kehidupan yang berat - ada satu Getaran, Kekuatan di Alam Semesta yang peduli. Ia Melihat. Ia Mendengar. Ia  Menjawab.  Ia Mengulurkan Tangan.    

Namun Avalokitesvara  bukanlah sekedar Tempat Bersandar. Ia juga memberi contoh bagaimana kita sebagai manusia harus bersikap.  Cintakasih dan Welas-Asih adalah penghubung.  Ia adalah perekat bagi semua makhluk - antara satu dengan yang lain. 

Sifat Cintakasih dan Welas-Asih ini dapat mengikis dominasi Ego kita - dan dengan terkikis habisnya dominasi Ego  akan membawa kita ke Pencerahan - karena pada dasarnya segala sesuatu adalah An-Atman. An-Atta
 
Avalokitesvara pada awalnya di India di representasikan  dalam wujud maskulin. namun ketika Buddhisme Mahayana masuk ke Tiongkok dan bertemu dengan Taoisme Kedewaan - muncullah sebuah Legenda tentang Putri Miao Shan yang konon dipercaya sebagai inkarnasi dari sang Avalokitesvara.  Sejak itu - di Tiongkok - representasi wujud  Avalokitesvara berubah menjadi feminin - dan lebih dikenal secara umum sebagai Guan Shi Yin - Kwan She Im dalam dialek Hokkian nya.  Sebagai Mahadewi Kwan Im - sang Mahadewi Cintakasih dan Welas-Asih.  

Figur Dewi Penolong Umat Manusia ini sebenarnya juga ada di Budaya Spiritualitas yang lain - di Tiongkok Kuno - ada Wang Mu Niang-Niang  yang banyak dipuja sebagai Dewi Penolong sebelum munculnya Avalokitesvara di sana. Juga dalam Tradisi Agama Katolik - ada Bunda Maria - yang melalui Doa Novena banyak dipuja dalam doa oleh para penganut Agama Katolik di Goa-Goa Maria yang ada di banyak lokasi.

Dalam konsep Agama Buddha Mahayana awal di India - dikenal adanya beberapa tingkatan ke Buddha-an yang meliputi : Dhyani Buddha, Dhyani Bodhisattva  dan Manusi Buddha. Hubungan antar ke tiganya dapat kiranya di ilustrasikan sebagai berikut :

Dhyani Buddha di gambarkan sebagai Buddha yang selalu dalam keadaan Tafakur.  Buddha Semesta.  Dengan daya emanasi Dhyani Buddha - turunlah ke dunia seorang Manusi Buddha yang bertugas mengajarkan Dharma bagi umat manusia.  Setelah Manusi Buddha wafat -  kembali Dhyani Buddha  memancarkan daya emanasinya dan muncullah Dhyani Bodhisattva.  Tugas Dhyani Bodhisattva berakhir ketika akhir jaman karena dunia tidaklah kekal dan suatu ketika akan muncul sebuah jaman baru. 

Setiap jaman - seperti dapat dilihat dalam ilustrasi di Candi Borobudur - mempunyai rangkaian Dhyani Buddha - Dhyani Bodhisattva dan Manusi Buddha sendiri-sendiri. Untuk masa sekarang - Dhyani Buddha  adalah Buddha AmitabhaDhyani Bodhisattva - Bodhisattva Avalokitesvara dan Manusi Buddha adalah Buddha Sakyamuni yang terlahir sebagai Pangeran Siddharta Gautama.

Amitabha secara harafiahnya berarti - Cahaya atau Enerji tak terbatas - dalam Ruang yang tak terbatas. Sebuah definisi untuk Yang Tertinggi.  Avalokitesvara  adalah representasi dari Getaran/Kekuatan Cintakasih dan  Welas-Asih Semesta yang menyatukan semua makhluk.

Namun - konsep awal Buddhisme Mahayana India ini  kemudian banyak berubah ketika Buddhisme masuk ke Tiongkok dan bertemu dengan Taoisme - dalam hal ini Taoisme Kedewaan.  Penafsiran figur figur suci dalam Buddhisme Mahayana India  - kemudian sangat jauh  ter-inflitrasi sistim kedewaan Taoisme - dan Agama Buddha Mahayana Tiongkok pun kemudian muncul dengan satu sistim Hagiologi Kedewataan yang berbeda. 

Konsep awal dari Amitabha berubah - demikian juga konsep Avalokitesvara mengalami sedikit pemahaman yang berbeda.  Nah - dalam konteks pemahaman seperti ini - kita dapat nantinya memahami mengapa Buddhisme Mahayana Tiongkok kemudian menjadi  berbeda. Dan dalam konteks pemahaman ini pula - kita dapat lebih memahami penataan Altar yang unik dan tidak biasa di Vihara Bhakti Suci ini. 

_____________

Selesai berdoa dan ber Pradaksina dari pukul 12.00 tengah malam hingga kurang lebih pukul 01.00 dini hari - kami pun kembali  ke Penginapan.   Ketika menuruni tangga vihara dan saya mendongak ke atas  - tampaklah Bulan bulat penuh.  Purnama. Dalam keremangan malam - terlihat bangunan vihara menjulang ke atas - menebarkan aroma Sakral. Sebuah vihara bagaimana pun juga adalah layaknya sebuah Mandala - tempat kita terhubung dengan Yang Tertinggi. 

Keesokan harinya - saya bergegas bangun - memang saya sudah terbiasa bangun pagi hari. Saya lihat ke dua teman saya masih tidur pulas terbuai mimpi. Sekali lagi saya pun naik ke Vihara pada jam 05.00 pagi.  Hawa di luar terasa sangat  dingin - dan saya pun masuk ke Dharmasala mencoba  bermeditasi di ruang dalam. 

Pagi yang hening. Dingin yang menggigit. Dalam keheningan meditasi - waktu terasa berhenti. Segalanya terasa diam.  Tiada gerak. Yang ada hanyalah Ketenangan dan Kedamaian dalam dinginnya udara pagi hari. 

Ketika kemudian udara terasa semakin hangat - saya pun menyadari bahwa jam telah terus bergerak - dan menunjuk pukul 06.00 pagi hari. Saya pun bergegas turun dan kemudian mengambil beberapa foto untuk ilustrasi tulisan ini. 

Di kejauhan - di arah depan - kiri dan  kanan nampak gunung-gunung di seputar vihara ini. Gunung Merbabu, Merapi di belakangnya - Gunung  Telomoyo , Andong  dan Gajah. Sebuah vihara yang dikelilingi gunung - sungguh satu lokasi yang sangat strategis dan indah  - satu lokasi yang tentu membawa Feng Shui yang sangat bagus. 

Tapi saya tak punya waktu lagi untuk menikmati keindahan ini - ke dua teman saya tampaknya telah bangun - dan naik berdoa di Vihara. Kemudian mereka bergegas turun dan kami pun harus bersiap-siap untuk memulai perjalanan pulang. 

Vihara Bhakti Suci.  Sebuah Vihara yang unik yang mempunyai ciri khas-nya tersendiri.  Sebuah Vihara yang dibangun sebagai Sebuah Ungkapan Terimakasih dan Bhakti dari Suci - isteri dari pengusaha sukses Joko Singgih Sugiarto - sebagai  ungkapan terimakasih untuk kesembuhannya.  Sebuah Ungkapan Bhakti dari SuciVihara Bhakti Suci. 


Namo Avalokitesvara Bodhisattvaya Mahasattvaya
Namo Guan Shi Yin Pu Sa
Om Mani Padme Hum

Solo - 29 Nopember 2013

Aryanto Wong

Tidak ada komentar: