Jumat, 19 November 2010

29. Jalan Spritual. Jalan yang Terjal.


Jalan Spritual bukanlah Jalan yang Mudah. Jalan Spiritual adalah Jalan yang Terjal. Jalan yang Licin dan penuh Hambatan.

Di bawah ini adalah potongan Sanjak - sebuah Puisi yang Indah dari Kabir - seorang Master Sufi dan seorang Mistik India ( 1440 -1518 ). Pertama saya berikan terjemahan dari puisi aslinya dalam Bahasa Inggris - dan kemudian nanti - terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.


Tell me , Brother ,
how can I renounce Maya ?

When I gave up the tying of ribbons,
still I tied my garment about me :
When I gave up tying my garment,
still I covered my body in its fold.

So , when I gave up passion,
I see that anger remains ;
And when I renounce anger,
greed is with me still ;
And when greed is vanquished,

pride and vain glory remain ;

When the mind is detached and casts Maya away, still it clings to the letter.
Kabir says : ' Listen to me, dear Sadhu !

The true path is rarely found ! '


( Kabir : 5 )


Komentar :


Tepatlah apa yang ditulis oleh Kabir . Jalan Spiritual bukanlah Jalan yang Mudah. Jalan ini Licin, Berat dan Berliku. Bukan Jalan untuk Orang Kebanyakan. Di bawah adalah terjemahan dari Puisi indah Kabir dalam Bahasa Indonesia - terjemahan oleh Anand Krishna. Sebuah terjemahan bebas tetapi indah - tanpa menghilangkan esensi pesan aslinya.

Katakan kawan,
bagaimana membebaskan diri dari Maya,

dari Ilusi Dunia ?

Tali pengikat sudah kulepaskan,

tapi bajuku masih tetap ada.

Ketika baju pun kulepaskan,

lipatannya masih membekas.

Aku tetap juga tidak bebas.

Saat kulepaskan nafsu, kulihat amarah masih tersisa.
Dan saat amarah kulepaskan,
keserakahan masih tetap ada.
Bebas dari keserakahan,

Aku tetap terjerat oleh keangkuhan.

Pada suatu ketika,

Pikiran pun terbebaskan dari Maya,

Namun ,
ia tetap tidak bebas dari Nama dan Rupa.
Wahai Jiwa Tenang yang kucintai,

Jalan menuju- Nya sungguh jarang ditemui.

Minggu, 10 Oktober 2010

28. Sutra Diam. Sutra tanpa Kata.































Ilustrasi Gambar :

Atas. Bodhidharma - Patriat ke 28 - Buddhisme Zen India yang membawa Zen ke Tiongkok.
Bawah. Enso - Shunyata - Suwung.

Tuntunan spiritual pada tahap tinggi - seringkali tidak lagi disampaikan melalui kata-kata. Siswa yang tingkat kesadaran-nya telah sampai - akan mengerti. Yang belum - akan melewatinya begitu saja. Ketika di Bukit Grakutha - sang Buddha Gautama memegang sekuntum bunga tanpa kata dan tersenyum - Mahakasyapa mengerti. Dan ia-pun menjadi Pewaris Ajaran Inti sang Buddha yang pertama - menjadi Patriat Pertama Buddhisme Zen India.

Sutra Diam - Sutra Tanpa Kata - ini saya adopsi, sadur dan terjemahkan secara bebas dari buku The First Principle : Talks on Zen - sebuah buku mahakarya dari Master Zen India - Osho. Terimakasih pada Samanera Dhammasiri - teman yang telah memberikan buku ini - membawanya dari jauh - dari tempat ia sedang memperdalam Buddhisme - di Srilanka.


Raja Bijak

Alkisah - Patriat ke 27 Buddhisme Zen India - Hanyatara diundang oleh seorang Raja di India Selatan. Baginda telah mendengar nama harum Hanyatara sebagai Pewaris - Patriat ke 27 Ajaran Inti Buddhisme dari para pembantunya. Kini Baginda mengundang Hanyatara untuk datang ke Istana. Untuk apa? Untuk membacakan beberapa sutra dari sang Buddha Gautama kepada Baginda. Raja telah tak percaya lagi pada para Intelektual - para Profesor - yang hanya pandai mengolah teori dan nalar. Demikian pula Raja tak lagi percaya pada para Rohaniwan yang hanya pandai berkotbah. Ia ingin sang Master - sang Patriat - untuk datang dan membacakan sutra. Pasti akan lain - Baginda berharap akan memperoleh pencerahan spiritual daripada-nya.

Hanyatara - pun datang menghadap. Ia membawa seorang pembantu- Asistennya - yang biasa melayani keperluannya sehari-hari. Seorang biasa. Seorang yang sangat biasa. Selesai menyapa sang Baginda - ia pun menyuruh Asisten untuk mulai membaca beberapa bagian dari sutra sang Buddha Gautama. Sedang ia sendiri memejamkan mata - bernapas teratur sangat lembut bagaikan seorang bayi. Sangat tenang.

Baginda pun terhenyak. Beliau tak habis pikir mengapa bukan Hanyatara sendiri yang membaca sutra sang Buddha. Tapi demi sopan santun - Baginda pun mencoba mendengarkan sutra yang dibacakan oleh Asisten Hanyatara. Aduh - pikir Baginda - Asisten ini hanya orang biasa yang tampaknya tak tahu bagaimana cara membaca sebuah sutra. Tata Bahasa-nya salah, ucapannya tak meyakinkan.

Demi sopan santun - Raja tetap berdiam diri - hingga pembacaan sutra oleh Asisten sang Master selesai. Kemudian dengan tetap sopan Baginda mendekati Hanyatara dan bertanya: 'Guru-Ji, mengapa bukan anda sendiri yang membaca sutra sang Buddha?' Jawaban Hanyatara ternyata sangat mengejutkan Baginda: 'Aku tidak membaca sutra? Lalu apa yang kulakukan sedari tadi? Apakah Baginda tak melihatnya?' Raja pun jadi semakin bingung - tetapi dengan rendah hati ia pun bertanya: 'Maaf - Guru Ji - mungkin ada yang terlewatkan. Anda membaca sutra?' - tanya sang Baginda.

Dan Hanyatara pun menjawab: 'Ya. Aku berdiam diri. Bernapas masuk - keluar - masuk - keluar. Aku menyatu dengan hembusan dan tarikan napas-ku dan dengan demikian Kesadaran dapat terpisah dari Pikiran dan Perasaan. Aku membacakan pada Baginda tentang Kesadaran Total - Kesadaran yang mengambil jarak dari Perasaan dan Pikiran. Itulah sutra yang kubacakan untuk Baginda. Aku tidak membaca sutra dengan kata-kata. Tiap kali napas menghembus masuk - aku melakukannya dengan kesadaran total. Demikian pula ketika napas menghembus keluar. Itulah tujuan dari mendengarkan sutra - Baginda. Menjadi sadar total - sadar total terus menerus. Bukankah demikian - Baginda? Aku telah membacakan sutra pada Baginda. Hanya memang - aku tidak membacanya dengan kata-kata. Sutra tidak harus dibaca dengan kata-kata - Baginda. Demikianlah ada-nya'.

Baginda bukan lagi terhenyak - kali ini ia terkejut dengan jawaban Hanyatara. Tapi bagaimana-pun Baginda merasakan kebenaran dari apa yang Hanyatara katakan. 'Ya - memang ia benar' pikir Baginda. 'Napas. Napas adalah inti kehidupan. Dengan menyadari napas secara total - kita menyadari kehidupan. Ketika kita mampu menyatu total dengan napas - Kesadaran akan terpisah dari Pikiran dan Perasaan. Dan Hanyatara telah mengajarkannya padaku dalam diam. Benar - ia tak membaca Sutra dengan kata-kata - ia membacakannya kepadaku dengan caranya sendiri. Inilah Sutra Diam. Sutra Tanpa Kata-Kata' - dan sang Baginda pun kini menyadarinya.

Baginda pun kemudian mengucapkan terimakasih kepada Hanyatara dan kepadanya diberikannya sebuah permata besar. Hanyatara tak membutuhkan permata - tetapi demi sopan santun - ia pun menerima pemberian Baginda.

Kini Baginda memperkenalkan Hanyatara kepada ke tiga putranya - beliau ingin Hanyatara memberikan berkat kepada ke tiga putranya itu.

Putra Pertama maju ke depan. Ia berusia sekitar 15 tahun. Tetapi Hanyatara tak memberikan berkat - Hanyatara sesungguhnya hanya ingin melihat bagaimana kedalaman spiritual dari ke tiga Putra Baginda ini.

Ketika Putra Pertama mendekat - Hanyatara menunjukkan permata besar yang diberikan sang Baginda kepadanya - kepada anak muda itu. Tanpa berkata apa-apa, Hanyatara memandang tajam - menanti apa yang akan dikatakan Putra Pertama.

Melihat permata besar di tangan Hanyatara - Putra Pertama kemudian berkata : 'Oh. Permata yang indah. Jenis permata air. Sangat bening. Sungguh indah dan sangat langka. Bukan batu permata sembarangan. Darimana Guru-Ji memperolehnya?'.

Hanyatara hanya tersenyum - tak memberikan jawaban. Ia berpikir : 'Ya - anak ini benar. Memang permata yang indah dan langka. Belum pernah kulihat yang seperti ini'.

Kemudian Putra ke Dua dipanggil mendekat. Putra ke Dua ini berusia sekitar 10 tahun. Ketika melihat permata itu di tangan Hanyatara - ia pun berkata :

'Permata yang bagus. Yang terbaik. Pasti itu milik Ayah-ku karena di Kerajaan ini tidak mungkin ada yang memiliki permata semacam itu selain Ayah. Guru-Ji, anda tidak dapat memilikinya. Tidak bisa - oleh karena untuk menjaga permata semacam itu - Guru-Ji harus selalu dikawal tentara yang cukup banyak - sedang anda Guru-Ji tak punya tentara. Banyak yang ingin memilikinya. Berbahaya bagi anda - permata semacam itu - Guru-Ji!'

Hanyatara terkesiap. 'Sungguh satu jawaban yang sangat cerdas' - pikirnya.

Kini giliran Putra ke Tiga. Yang terkecil. Usianya baru 7 tahun. Anak kecil itu melihat permata besar di tangan Hanyatara dan kemudian tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal'.

Kata anak kecil itu : 'Guru-Ji. Apa anda ini ingin membodohiku? Tidak bisa. Permata Sejati tidak berada di luar. Anda telah memiliki permata itu di dalam diri anda. Aku dapat dengan jelas melihatnya. Anda samasekali tidak membutuhkan permata semacam yang ada di tangan anda sekarang. Buang permata itu - lempar saja - Guru-Ji'.

Hanyatara tertegun - dan kemudian tersenyum. 'Ya. Ya - tak salah lagi - anak inilah! Dialah orang nya. Dialah yang akan menggantikan diriku'. Hanyatara pun memeluknya.

Putra ke Tiga ini bernama Bodhitara. Hanyatara kemudian mengubah namanya menjadi Bodhidharma. Dan seperti kita semua telah ketahui - memang Bodhidharma - lah yang kemudian menggantikan Hanyatara - dan menjadi Patriat Zen India yang ke 28.

Pelajaran tentang Sutra Diam - Sutra Tanpa Kata-Kata - seperti yang pernah pada suatu kali diajarkan oleh Hanyatara kepada ayahnya tak pernah dilupakannya.

Bodhidharma kemudian membawa Ajaran Inti sang Buddha ini ke Tiongkok dan mendirikan sebuah Biara di Lo Yang yang kemudian dikenal sebagai Biara Shaolin. Ajaran Inti Buddhisme yang dibawa Bodhidharma ini kemudian menyerap inti yang terbaik dari Taoisme dan Konfusianisme - dan pada saat sekarang ini Ajaran ini dikenal sebagai Buddhisme Zen.

Zen - seperti yang diajarkan oleh Bodhidharma memang tidak terlalu ingin bertumpu pada kata-kata. Ia diajarkan - diberikan - dengan cara transmisi langsung - dari Hati ke Hati : I-Shin-Den-Shin demikian istilahnya dalam Bahasa Jepang. Dan Zen sendiri - demikian selalu Bodhidharma katakan :

Tak dapat disampaikan lewat buku.Tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.Hanya dapat dialami.
Itulah Zen !

Kamis, 30 September 2010

27. Mahadewa Guan Gong - Sang Penjaga Dharma

























 







Ilustrasi Gambar - Atas ke Bawah :

Atas - Rupang/Kim Sin Mahadewa Guan Gong yang dapat kita temui di salah satu Altar Puja di Kelenteng Tien Kok Sie - Pasar Gede - Solo

Bawah - Patung Raksasa Mahadewa Guan Gong di sebuah Bukit/Gunung di Jinguashi - Taipei, Taiwan. Di sini Guan Gong terlihat sedang duduk membaca Kitab Chun Qiu yang ditulis oleh Nabi Kong Zi/Khong Hu Cu yang konon sering dibacanya.



Mahadewa Guan Gong (Kwan Kong - dalam dialek Hokkian) adalah dewa yang sangat luas dikenal dan salah satu yang paling banyak dipuja di kalangan masyarakat Tionghoa. Guan Gong dihormati oleh para penganut Agama Tao, Agama Buddha dan penganut Agama Khong Hu Cu di Tiongkok. Di kalangan masyarakat kebanyakan - Mahadewa Guan Gong ini juga sangat dihormati - dan gambar serta rupang/patung-nya sering kita jumpai di rumah-rumah pribadi orang Tionghoa. Di Gedung PMS - Perkumpulan Masyarakat (Tionghoa) Surakarta - juga terlihat sebuah Poster Besar dari Mahadewa Guan Gong terpasang dengan megah di ruang depan.
Mahadewa Guan Gong di kalangan masyarakat Tionghoa dikenal sebagai lambang dari Kesetiaan, Kejujuran, Keadilan - sifat Ksatria yang tak tergoyahkan oleh godaan dunia - sikap pegang janji dan sikap dapat dipercaya. Pada masa hidupnya - beliau adalah seorang Panglima Perang kenamaan yang hidup pada tahun 160 - 219 Masehi. Ia hidup pada masa San Guo / Sam Kok dan bernama asli Guan Yu (Koan I dalam dialek Hokkian). Riwayat sang Panglima Besar ini - dengan segala kebesaran jiwa dan keluhuran wataknya sebagai manusia dilukiskan dengan sangat indah dalam novel San Guo - Kisah Tiga Kerajaan - yang amat terkenal itu.

Panglima Besar ini mengangkat dua orang sebagai saudara angkat - yaitu Liu Bei sebagai saudara tua dan Zhang Fei sebagai saudara muda. Dalam Kisah Tiga Kerajaan - kita akan belajar banyak tentang makna persaudaraan sejati - kedalaman sifat setia, kejujuran dan sifat ksatria dari Guan Gong. Karenanya - momen ketika tiga bersaudara ini mengangkat tali persaudaraan di sebuah Kebun Persik - menjadi salah satu obyek lukisan Tiongkok yang sangat terkenal. Demikian pula - momen ketika mereka- tiga bersaudara - bahu membahu dalam pertempuran melawan seorang Panglima Perang tangguh bernama Lu Bu - menjadi obyek lukisan yang sangat menarik. Ke dua lukisan itu menggambarkan kehangatan - ketulusan hubungan batin antar saudara yang dilandasi oleh rasa persaudaraan murni. Sebagai bagian dari pendidikan Budi Pekerti - bahkan hingga sekarang banyak anak-anak Sekolah Dasar di Jepang diperkenalkan dengan Kisah Tiga Kerajaan / San Guo ini. Ketika beberapa waktu yang lalu seorang teman saya yang berkebangsaan Vietnam berkunjung ke rumah saya dan melihat koleksi rupang/patung Mahadewa Guan Gong yang saya miliki - ia pun langsung mengenalinya dan mengatakan bahwa Guan Gong juga merupakan bagian dalam budaya di negaranya - figur Guan Gong dikenal oleh hampir semua orang Vietnam.


Sifat - Sifat Mulia dan Kepahlawanan Guan Gong :

Kisah tentang sifat-sifat Ksatria - Kejujuran, Kesetiaan dan Keadilan dari Guan Gong sebagai seorang Panglima Perang dapat kita baca dalam banyak episode di dalam Kisah San Guo/Sam Kok - Kisah tentang Tiga Kerajaan. Kisah Tiga Kerajaan ini adalah sebuah Karya Sastera Sejarah yang sangat terkenal, menarik dan daripadanya - kita dapat belajar banyak tentang hakekat sifat Kepahlawanan, sifat Ksatria - Kejujuran, Kesetiaan, Keadilan, Keberanian dan Keteguhan Hati dalam mempertahankan Prinsip-Prinsip Kebenaran dari Panglima Perang Guan Gong.

Buku Kisah Tiga Kerajaan / San
Guo / Sam Kok ini telah ada dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Karya Klasik ini memang tak lekang oleh jaman dan sungguh merupakan suatu bacaan yang sangat menarik dan bermanfaat untuk menanamkan dan mengajarkan satu sikap Budi Pekerti yang baik. Budi Pekerti dari seorang manusia yang ber Tingkat Kesadaran Batin Tinggi - yang amat patut ditiru dan diikuti dalam hidup - apabila kita memang berniat menjadi seorang manusia mulia. Ilustrasi tentang sikap mulia dari panglima Besar Guan Gong dapat kita baca secara lengkap dalam Kisah San Guo - dan salah satu petikannya adalah seperti di bawah ini :

Setelah melewati beberapa kali pertempuran, pasukan Cao Cao terdesak oleh gabungan kekuatan antara pasukan Liu Bei dan Sun Quan. Akhirnya - dengan pasukan yang telah hancur lebur - Cao Cao pun mundur ke Utara melewati sebuah celah - celah Huarong dimana Guan Yu telah menunggu untuk menghabisinya atas tugas dari Zhuge Liang.

Guan Yu memang ditugasi untuk mencegat dan membunuh Cao Cao di celah Huarong. Tetapi ketika Cao Cao telah ada dihadapannya - dalam keadaan lusuh nelangsa - pasukannya telah hancur lebur tinggal beberapa - dan kemudian Cao Cao berlutut di hadapannya - hati Guan Yu - manusia budiman ini tergerak. Ia teringat bahwa suatu kali di waktu lampau - Cao Cao pernah menolong dirinya.

Atas pertimbangan ini - Guan Yu membuat keputusan besar - ia membebaskan Cao Cao dan membiarkannya berlalu. Konsekwensinya amat berat dan karena itu segera Guan Yu menghadap Zhuge Liang - melaporkan apa yang telah terjadi dan menyatakan bahwa ia siap menanggung segala hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya.

Zhuge Liang - atas desakan Liu Bei kemudian memang memaafkan Guan Yu. Ironisnya - di kemudian hari - Cao Cao yang telah dibebaskan oleh Guan Yu - ternyata ketika keadaan kemudian terbalik - tega menghukum mati dirinya.

Memang - itulah perbedaan sifat seorang ksatria sejati dan seseorang yang bersifat licik dan penuh tipu daya. Dan untuk sifat ksatria - selalu mengingat budi baik itu - Guan Yu amat dikagumi. Inilah sifat seorang ksatria sejati.

Ini hanyalah satu contoh dari sikap dan tindakan Guan Yu yang menunjukkan betapa dirinya adalah seorang manusia mulia. Seorang ksatria sejati yang amat sangat sulit dicari duanya. Dan untuk sifat-sifat inilah Guan Yu - pada akhirnya kemudian didaulat menjadi seorang Dewa - bahkan seorang Mahadewa.
Ksatria Bermuka Merah :
Kadang-kadang kita jumpai rupang/patung Mahadewa Guan Gong - dimana beliau digambarkan sebagai seorang Ksatria Bermuka Merah - seluruh wajahnya berwarna merah. Tentang wajah yang berwarna merah ini - memang ada kisah-nya tersendiri.

Dikisahkan bahwa suatu kali dalam pengembaraannya Guan Yu berjumpa dengan seorang tua yang sedang meratap menangis sedih. Ketika Guan Yu menanyakan apa yang terjadi - ia mendengar cerita bahwa orang tua tersebut sangat sedih karena anak perempuan satu-satunya telah diambil secara paksa oleh Wedana stetempat untuk dijadikan gundik.

Guan Yu yang berwatak budiman dan sangat membenci perbuatan yang sewenang-wenang - itu pun segera naik darah. Dibunuhnya Wedana jahat itu dan dikembalikannya gadis yang dirampas untuk dijadikan gundik itu kepada orangtuanya. Tetapi dengan perbuatannya itu - Guan Yu kemudian menjadi buron dan dikejar-kejar oleh tentara setempat.

Guan Yu pun melarikan diri untuk menghindari pengejaran. Ketika ia tiba di celah Dong Gua yang terletak di Propinsi Shanxi - Guan Yu membasuh mukanya di sebuah sendang kecil di pegunungan itu. Terjadi keajaiban. Seketika - tanpa dinyana - seluruh wajahnya berubah menjadi berwarna merah sehingga Guan Yu sudah tak dapat dikenali lagi. Dengan mudah - kemudian Guan Yu pun menyelinap, menghindar dan kemudian melarikan diri dari kejaran para tentara yang telah ditugasi untuk menangkap dirinya.


Guan Gong : Taois, Buddhis atau Konfusianis ?

Guan Gong yang terus mempertahankan sifat kejujuran, sifat kesetiakawan dan sifat seorang ksatria sejati yang pantang jatuh dalam godaan duniawi - akhirnya justru mengalami nasib tragis. Ia dihukum mati karena mempertahankan prinsip hidupnya yang kuat. Dihukum mati oleh - Cao Cao - seseorang yang pernah diselamatkannya dari maut. Tapi kematiannya ini sekaligus juga telah menjadikannya dipuja sebagai seorang Dewa - bahkan seorang Mahadewa. Mahadewa Guan Gong - Kongco Kwan Kong - sang Dewa Keadilan, Kejujuran dan Kesetiakawanan.

Penghormatan terhadap Guan Gong sebagai seorang ksatria yang selalu berpegang teguh pada sumpahnya - yang tidak pernah sekali pun goyah akan harta dan kekuasaan juga menyebabkan ia mendapat penghormatan sangat tinggi dari para Kaisar Tiongkok di jaman-jaman berikutnya.

Guan Gong memperoleh gelar yang luarbiasa - yaitu sebagai Te atau Di. Lengkapnya - Kwan Te Ya atau Guan Di Ye yang berarti Mahadewa atau Maharaja. Dalam hierarki kedewaan - ini menempatkan beliau pada satu kedudukan kedewaan yang sungguh amat tinggi - seperti halnya Hian Thian Siang Te ( Xuan Tian Shang Di ) - salah satu Dewa tertinggi dalam Hierarki Kedewaan Taoisme.

Karenanya - Mahadewa Guan Gong - oleh Kaum Taois dianggap sebagai salah satu Dewa mereka - dan ditempatkan dalam salah satu hierarki yang sangat tinggi.

Sedangkan Kaum Konfusianis - menganggap Guan Gong adalah seorang Konfusianis - oleh karena konon pada masa hidupnya Guan Gong sering kedapatan sedang membaca Kitab Chun Qiu - yang ditulis oleh Nabi Kong Zi / Nabi Khong Hu Cu. Pose Guan Gong sedang membaca Kitab Chun Qiu ini banyak disukai dan menjadi obyek bagi para pelukis dan pemahat-pemahat pada jaman kemudian.

Kaum Buddhis pun tak ketinggalan dan memberi gelar Bodhisattva Sangharama - Bodhisattva sang Penjaga Dharma - Bodhisattva Pelindung Buddhadharma.

Mahadewa Guan Gong - sebagai dewata memang kemudian dipuja oleh baik pengikut Taoisme, Buddhisme mau pun Konfusianisme.

Kaum Taois memujanya sebagai Dewa pelindung dari Malapetaka Peperangan. Kaum Konfusianis memujanya sebagai Dewa Kesusasteraan - sedangkan Kaum Buddhis seperti telah disebutkan tadi memujanya sebagai Bodhisattva Sangharama - sang Penjaga Dharma !!


Penutup

Pada hemat saya - pada dasarnya sebagian besar manusia kagum dan mendambakan sifat-sifat mulia seperti Kejujuran, Kesetiaaan, Keadilan - Sifat Dapat Dipercaya - Sikap Memegang Janji dan Kata-Kata. Sifat Ksatria yang mengesampingkan pamrih diri sendiri dan tahan terhadap godaan duniawi. Sifat Setiakawanan dan mampu membina Persahabatan Sejati.

Sifat-sifat semacam ini sungguh hanya dapat muncul dari satu pribadi yang bertingkat kesadaran batin sangat tinggi. Pribadi yang telah dapat mengalahkan sifat-sifat angkara di dalam dirinya sendiri. Dan manusia yang dapat bersikap seperti ini sungguh hampir tak pernah kita temui. Manusia semacam ini adalah sungguh seorang manusia yang amat langka.

Karenanya tidaklah mengherankan mengapa Guan Gong begitu dihormati - dan sebagai Mahadewa Guan Gong - altarnya terdapat hampir di semua Kelenteng - dan gambar serta rupang/patung dirinya kita temui dimana-mana. Ini merupakan suatu bentuk penghormatan yang sesungguhnya - dan saya pikir - hal ini sungguh sangat wajar. Pribadi dengan sifat-sifat yang luarbiasa - tentu sangat patut dihormati.

Apabila kita renungkan - apakah yang akan dilakukan sebagian besar manusia dalam posisi seperti Guan Gong ? Jawabnya saya kira tak sukar dan amat jelas - sebagian besar manusia dalam posisinya akan melakukan apa yang menguntungkan dan menyelamatkan dirinya sendiri saja.

Apalagi di masa sekarang ini. Kita lihat saja di dekat dekat kita betapa mereka yang mempunyai kekuasaan dan kedudukan telah begitu banyak yang kehilangan hati. Kekuasaan dan kedudukan dipakai hanya untuk kepentingan diri pribadi atau kelompoknya - jauh sekali dibandingkan apa yang dilakukan oleh seorang Guan Yu - seorang Guan Gong.

Pendapat pribadi saya - sebagai seorang Buddhis - Guan Gong - sang Mahadewa memang sungguh pantas dan patut diberi gelar kehormatan sebagai seorang Bodhisattva Sangharama - sang Penjaga Dharma.

Figur Guan Gong dalam altar pemujaan sering ditampilkan berpakaian perang lengkap - kadang kadang tampak tampil membaca buku bersama putra angkatnya - Guan Ping (Koan Ping) yang memegang cap kebesaran - dan Zhou Yang - pengawalnya yang setia - bertampang hitam brewokan memegang sebuah golok berlukiskan Naga Hijau mengejar Rembulan.

Hari Kelahiran Mahadewa Guan Gong diperingati pada Bulan ke 6 - Tanggal 24 Imlek yang tahun 2010 ini jatuh pada tanggal 4 Agustus yang lalu. Hari Kelahiran / Se -Jit-nya ini diperingati hampir di semua Kelenteng - karena hampir semua Kelenteng menempatkan Mahadewa Guan Gong di salah satu Altar Puja-nya. Di Indonesia - perayaan yang sungguh luarbiasa meriah selalu berlangsung setiap tahun di Kelenteng Kwan Sing Bio di kota Tuban - dimana Mahadewa Guan Gong dipuja di Altar Utama. Puluhan ribu orang/umat dari seluruh penjuru Indonesia memadati kota Tuban pada seputar hari Se-Jit itu untuk merayakan Hari Ulang Tahun dari Mahadewa yang sangat luas dipuja dan dikagumi ini.

Akhirnya . . .

Guan Gong. Lambang dari Sifat-Sifat Mulia manusia. Sifat Setia, Jujur, Adil, Dapat Dipercaya - Selalu memegang Kata-Kata. Manusia yang berpegang teguh pada Prinsip-Prinsip Kebenaran. Seorang Ksatria Sejati.

Tanah Nusantara - Indonesia - juga memiliki seorang Guan Gong. Dan dia adalah Patih Gajahmada. Sang Mahapatih Gajahmada. Pembawa kejayaan satu Kerajaan Besar di Nusantara - Majapahit - pada masanya. Seorang Mahapatih yang selalu mengesampingkan kepentingan dan pamrih-pamrih pribadi. Seorang Pengabdi Negara yang sangat setia. Seorang Mahapatih yang rela ber- Sumpah Palapa - sebelum seluruh Nusantara bersatu dalam satu Kerajaan Besar - berwilayah luas membentang dari Sumatera ke Papua yang mencakup pula Semenanjung Melayu dan Maluku.

Presiden Pertama Indonesia - Soekarno - seorang Pemikir Cerdas, Budayawan Besar, Pemimpin yang ber - Visi Luas dan Jauh ke Depan - telah meng-adopsi banyak dari Kerajaan Majapahit demi kebesaran dan kejayaan negeri ini. Bendera Negara - Sang Saka Merah Putih, Dasar dan Falsafah Negara - Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika - semuanya diadopsi dari Majapahit pada masa Majapahit berada di bawah kendali kuat Sang Mahapatih Gajahmada. Sang Mahapatih memang adalah figur kunci yang membawa Majapahit pada puncak kejayaannya. Guan Gong nun jauh di sana - dan Mahapatih Gajahmada di Nusantara keduanya mempunyai kualitas kemanusiaan yang sama.

______________

Dari kota Jombang menuju arah Mojokerto - sekitar sepuluh kilometer di sebelah kanan Jalan Raya - anda akan melihat satu Gapura Besar yang terbuat dari batu bata merah megah berdiri. Itulah bekas Gapura Besar - Gapura yang dulunya merupakan Pintu Masuk Utama Kerajaan Majapahit.

Di kiri kanan Gapura - dalam radius puluhan kilometer terdapat situs-situs dari bekas Kerajaan Besar ini. Ada tempat bernama Wisudha - itulah tempat Sang Mahapatih mengucapkan Sumpah Palapa. Ada Candi Penataran - tempat yang disukai beliau untuk menyepi dan bermeditasi. Ada lagi satu tempat di tepi hutan - dimana terdapat sebuah batu besar - tempat Mahapatih Gajahmada undur dari dunia - menyepi dan bertapa - setelah terjadi satu perselisihan paham yang menyebabkan beliau memilih mundur dan meletakkan jabatan-nya sebagai seorang Mahapatih. Mahapatih Gajahmada - memilih memegang prinsip hidup yang ia yakini sebagai kebenaran daripada sekedar mempertahankan kedudukan. Di tempat ini konon sang Mahapatih bertapa dan mengasah kehidupan spiritualnya hingga - konon menurut cerita - beliau mencapai Mokhsa.

Batu besar yang ada di tempat ini - mengingatkan saya pada batu besar yang ada di tempat pertapaan Tan Tiek Sioe (Sian). Tan Tiek Sioe adalah seorang Petapa Taois yang dikenal sebagai Petapa Sakti dari Gunung Wilis - yang pada masa hidupnya dikenal dan dipuja oleh masyarakat Tionghoa pada waktu itu.

Bertapa dengan cara bersandar pada batu besar merupakan satu cara tapa Taois yang entah bagaimana ternyata dilakukan pula oleh Mahapatih Gajahmada.

Semata-mata karena kekaguman pribadi - saya meletakkan Lukisan dari Mahapatih Gajahmada di Altar Puja saya - dan untuk alasan itu pula - saya menyebut beliau sebagai Kongco Mada.

Guan Gong. Mahapatih Gajahmada. Manusia-Manusia dengan Sifat Mulia. Manusia yang amat sangat pantas dihormati. Nabi Besar Tiongkok - Kong Zi/Khong Hu Cu mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menjadi seorang Kun Tse - seorang Manusia yang Berwatak Mulia. Manusia memang seyogyanya dihormati dari Watak Sejatinya. Dan dari ketinggian Tingkat Kesadaran Batin yang ada di dalam dirinya.

Solo - 30 September 2010

Senin, 07 Juni 2010

26. Om Mani Padme Hum













Ilusrasi Gambar - dari kiri ke kanan :

Permata - sebagai ilustrasi saya pilihkan di sini batu Amethyst berwarna ungu - warna spiritual - sebagai lambang dari Cintakasih / Compassion


Tulisan Om Ma Ni Pad Me Hum dalam aksara Bahasa Tibet

Teratai - saya pilihkan juga yang berwarna ungu - sebagai lambang dari Kebijaksanaan / Wisdom


 
Sebuah pertanyaan tentang Hakekat Kehidupan yang amat dalam : Apakah yang dapat menghubungkan manusia dengan Hakekat Kehidupan yang Tertinggi? Apakah yang menghubungkan manusia dengan apa yang merupakan Sumber - Asal Muasal segala sesuatu - Tuhan - sang Khalik Semesta Alam - Thian - Pencerahan Sempurna - atau apa pun istilah-nya?

Mantram Om Ma Ni Pad Me Hum secara gamblang memberikan jawaban. Dua tali penghubung yang tak terpisahkan satu dari yang lain - adalah : Yang pertama adalah Cintakasih dan yang ke dua adalah Kebijaksanaan. Cintakasih dan Kebijaksanaan. Compassion and Wisdom. Karuna dan Pradnya. the Jewel and the Lotus - Mani dan Padme : Permata dan Teratai - masing masing sebagai lambang dari Cintakasih dan Kebijaksanaan. Dan pesan pun kemudian menjadi jelas : Hanya dengan Cintakasih dan Kebijaksanaan lah - seorang manusia dapat mencapai Hakekatnya yang Tertinggi.

Apabila di analisa - kata Om berarti Sumber - Asal Muasal - Tao - Thian - Tuhan atau apa pun istilahnya. Sedangkan Hum - berarti diri - kita - manusia. Di antara Om dan Hum terbentang Mani dan Padme. Mani adalah Permata - lambang dari Cintakasih. Padme - Teratai - lambang dari Kebijaksanaan. Om terhubung dengan Hum - melalui Mani dan Padme.

Om Ma Ni Pad Me Hum adalah nama dari sebuah mantram yang ditujukan pada Bodhisattva Avalokitesvara - Getaran Cintakasih dan Belaskasih Semesta. Ia merupakan salah satu dari dua Mantram Utama - dua Mantram Agung - di samping mantram Maha Karuna Dharani / Da Bei Zhou - mantram lain bagi sang Avalokitesvara.

Mantram Om Ma Ni Pad Me Hum terdiri dari 6 suku-kata yang juga melambangkan 6 Alam Kehidupan - dan tiap suku-kata ditulis dalam satu warna tertentu :

Om - Putih - melambangkan Alam Dewa
Ma - Hijau - melambangkan Alam Asura
Ni - Kuning - melambangkan Alam Manusia
Pad - Biru - melambangkan Alam Binatang / Hewan
Me - Merah - melambangkan Alam Peta / Preta
Hum - Hitam - melambangkan Alam Neraka

Orang Tibet konon amat terobsesi dengan mantram Om Ma Ni Pad Me Hum ini. Tulisan mantram ini dipercaya sangat efektif apabila dituliskan di batu-batu besar, juga ditulis di Alat Pemutar Mantram atau juga di bendera-bendera. Begitu hormatnya orang Tibet pada Om Ma Ni Pad Me Hum ini hingga tulisan mantram ini walau-pun misalnya hanya tertulis pada sehelai kertas - tidak akan dibuang atau dilempar secara sembarangan. Tulisan mantram Om Ma Ni Pad Me Hum mereka percaya dapat memberikan perlindungan dan berkah - mungkin semacam kertas Hu dalam Taoisme akar rumput yang juga dipercaya dapat membawa satu pengaruh tertentu - tergantung pada tulisan apa yang ada pada Hu tersebut.

Mantram Om Ma NI Pad Me Hum ini muncul pertama kali pada sekitar tahun 1050 Masehi - tertulis dalam Sutra Karandavyuha - yang merupakan bagian dari Kumpulan Sutra-Sutra Buddhisme Mahayana.

Karena sangat terkesan - atau terobsesi bahkan - oleh perlambang Karuna dan Pradnya - Cintakasih dan Kebijaksanaan ini - yang bagi saya terasa sangat mengena - saya pun ikut-ikutan menempatkan lambang Cintakasih dan Kebijaksanaan ini di Altar Puja di rumah. Di bagian tengah Altar Puja - saya tempatkan rupang sang Buddha Sakyamuni. Mungkin perlu saya jelaskan bahwa Buddha bukanlah nama seseorang. Kata 'Buddha' mengacu pada Tingkat Spiritual Tertinggi yang dapat dicapai. 'Buddha' berarti 'Yang telah Terbangun'. 'Yang Tersadar'. ' Yang Tercerahkan'.

Di sebelah kanan - sebagai lambang Karuna / Cintakasih - saya letakkan rupang Bodhisattva Avalokitesvara dalam tampilannya sebagai Mahadewi Guan Yin / Kwan Iem - Bodhisattva Avalokitesvara dalam versi Tiongkok.

Sedang sebagai lambang Pradnya / Kebijaksanaan - saya tempatkan rupang Mi Le Fo / Bi Lek Hud - sang Buddha Masa depan - Buddha Maitreya - yang dalam versi Tiongkok digambarkan sebagai seorang Buddha Gendut yang selalu Tertawa Gembira.

Lambang Kebijaksanaan dalam Buddhisme memang dapat dilambangkan sebagai Mi Le Fo - atau dalam Buddhisme Mahayana India - seringkali dilambangkan sebagai Bodhisattva Manjusri atau Bodhisattva Vajrapani.


penutup . . . . .

Candi Mendut. Sebuah candi sakral yang telah berusia lebih dari seribu tahun - terletak di desa Mungkid - kabupaten Magelang. Candi Mendut merupakan satu rangkaian dalam Tritunggal Candi Borobudur - Mendut - Pawon. Kemungkinan besar - pada masanya dulu - Candi Mendut ini lebih berperan sebagai Tempat Pemujaan.

Memasuki bilik Candi Mendut - kita akan langsung berhadapan dengan rupang sang Buddha - sang Maha Buddha Vairocana - setinggi 3 meter terbuat dari satu batu utuh - yang mudah dikenali dari posisi tangan-nya yang dalam mudra Dharmacakramudra - mudra Pembabaran Dharma kepada umat manusia. Inilah lambang dari Pencapaian Spiritual Tertinggi - pemahaman dari Hakekat Kehidupan yang Tertinggi.

Di sebelah kanan-nya - menghadap ke Selatan - rupang Bodhisattva Avalokitesvara tampil terlihat duduk di atas sebuah teratai. Bodhisattva Avalokitesvara melambangkan Cintakasih. Arti harafiah dari kata 'Avalokitesvara' adalah 'Ia yang melihat dan mendengar Jeritan Penderitaan Makhluk'.

Di sebelah kiri - menghadap ke Utara - kita dapati rupang Bodhisattva Vajrapani sebagai lambang dari Kebijaksanaan.

Ruang dalam bilik Candi Mendut memang kadang tampak agak gelap. Ketika saya berada di sana waktu itu - kebetulan tidak ada orang lain - selain diri saya sendiri. Saya pun mencoba duduk dan bermeditasi - dan segera terasa suasana yang sangat hening dan sakral. Keheningan yang dalam itu - mengingatkan saya pada Armyn Pane - seorang penyair indonesia - yang pernah menulis tentang Candi yang satu ini dalam salah satu karya puisinya :



Waktu berhenti di tempat ini.
Tiada gerak. Diam semata.
Hening sejenak, aku merasa -
Alam menyatu di dalam diri.

Dalam keheningan meditasi - memang terkadang manusia dapat merasakan kesatuan dengan Semesta - karena bagaimana pun manusia memang bagian dari pada Nya. 'Alam menyatu di dalam diri' - demikian penyair alam Armyn Pane mengungkapkannya. 'Manusia adalah bagian tak terpisahkan dari Alam' - demikian kata Lao Tse. 'Anatta' - demikian penjelasan sang Buddha. 'Dukkha, Anicca, Anatta'. 'An-Atta'. Tiada secuil pun bagian dari diri kita yang terpisah. Segala sesuatu - yang terkecil sekali pun adalah bagian dari Yang Esa.

______________


Mantram Om Ma Ni Pad Me Hum dengan alunan musiknya yang sangat indah - pertama kali saya kenal pada tahun 2000 - ketika secara tak sengaja saya mendapatkan kaset dan CD nya di sebuah toko di kota Semarang.

Di samping mantram yang sangat indah ini - ada juga mantram lain yang juga sangat saya kagumi yaitu mantram Maha Karuna Dharani / Da Bei Zhou yang tak kalah indahnya dan yang juga ditujukan pada Bodhisattva Avalokitesvara. Da Bei Zhou - nama dalam Bahasa Mandarin / Han Yi - ini secara harafiahnya berarti Maha Cintakasih - Cintakasih yang Tak Terbatas. Demikian arti dari mantram yang satu ini. Ia pun sering dihubungkan dengan Avalokitesvara ber-Tangan Seribu. (Qianshou Guan Yin). Avalokitesvara ber-Tangan Seribu yang dengan seribu tangan-nya dapat menggapai dan menolong makhluk menderita di mana-pun berada. Sebuah penggambaran yang romantis.

Masih ada juga mantram lain - yaitu Mantram Arya Sanghata - sebuah mantram yang mengilustrasikan sebuah janji - atau bahkan sumpah - dari Bodhisattva Shantideva untuk selalu turun menolong meringankan penderitaan makhluk. Sebuah mantram yang sangat menyentuh. Kemudian juga - ada sebuah mantram sakral yang ditujukan kepada sang Maha Buddha Vairocana. Saya tidak tahu persis judulnya - tetapi alunan musik yang mengalun dari mantram ini terdengar sungguh sakral dan penuh wibawa.

Om Ma Ni Pad Me Hum. Permata di-dalam Teratai. Cintakasih yang terbalut dalam Kebijaksanaan - Dua tali penghubung yang akan membawa manusia kepada Hakekat Kehidupan yang Tertinggi.

Om Ma Ni Pad Me Hum
Om Shanti
Om . . .

Senin, 08 Februari 2010

25. Grebeg Sudiro. Sebuah Pembauran Budaya.






























 




















































Keterangan foto - foto. Dari kiri ke kanan - atas ke bawah :

1. Gunungan berisi kue keranjang diarak keluar dari Kelenteng Tien Kok Sie - Pasar Besar - Solo - setelah dilakukan Upacara Pemberkatan. Ada dua buah Gunungan - Gunungan Jaler dan Gunungan Estri.
2. Gunungan sudah mulai diarak - untuk kemudian nantinya isinya dijadikan rebutan oleh para penonton. Ada 2 Gunungan berisi kue keranjang - sebagian kue keranjang tidak ditempatkan di Gunungan karena tidak muat. Pada Grebeg Sudiro tahun 2010 ini kue keranjang yang dibagikan total seberat 1 ton terdiri dari 4.000 buah kue.
3. Bazaar Imlek yang sedang berlangsung di daerah Pecinan Pasar Besar - menyatu dengan acara Grebeg Sudiro.
4. Gadis Tionghoa dan Jawa yang cantik-cantik dari kelurahan Sudiroprajan berpartisipasi dalam kirab dan berdandan bak Putri Cina.
5. Yang ini - mas-mas dari Kelurahan Sudiroprajan juga berpartisipasi dengan berdandan bak rombongan Kera Sakti : Bhikksu Tong Sam Cong yang diiringi oleh Siluman Babi - Pat Kay, Sa Ceng dan Siluman Kera - sang Kera Sakti - Sun Go Kong.
6. Barongsai - Barongsai sedang antri menunggu pemberkatan dari Kelenteng. Tanpa terlebih dulu diberkati di Kelenteng/Li-thang atau Vihara - Barongsai atau pun Liong tak boleh langsung keluar di jalan atau muncul di satu pertunjukan.
7. Liong sedang menerima pemberkatan di Kelenteng Tien Kok Sie.


Grebeg Sudiro. Sebuah Pembauran Budaya. Tradisi Jawa bertemu Tionghoa. Sebuah Akulturasi indah antar dua budaya - yang amat patut dipelihara, dipertahankan dan dilestarikan.

Grebeg Sudiro. Dua kata. Kata Grebeg mengacu pada Tradisi Grebeg. Sudiro adalah kependekan dari Sudiroprajan - nama sebuah Kelurahan di daerah Pecinan di pusat kota Solo.

Tradisi Grebeg adalah sebuah tradisi yang telah lama mengakar dalam budaya Jawa. Kata Grebeg kemungkinan besar berasal dari nama Kyai Gribig - seorang tokoh besar Agama yang hidup di daerah Jatinom - Klaten sekitar 400 tahun lalu.

Di daerah Jatinom - Klaten ada satu Kegiatan Budaya yang disebut Yaqowiyu atau Ongkowiyu - yang diadakan setahun sekali pada tanggal 15 Bulan Sapar - bulan ke dua dalam sistim penanggalan Jawa. Pada hari tersebut - setelah malam sebelumnya diadakan ziarah ke makam Kyai Gribig - diadakan kirab Grebeg Ongkowiyu - dengan Gunungan yang membawa ribuan kue apem yang nantinya akan disebarkan pada masyarakat yang datang menyaksikan yang biasanya juga berjumlah ribuan orang - datang bukan hanya dari daerah sekitar. Masyarakat berbondong-bondong datang agar mereka dapat memperoleh kue apem yang disebar dari sebuah panggung karena mereka meyakini bahwa kue apem pada hari Grebeg Ongkowiyu membawa berkah bagi kehidupan mereka.

Tradisi Grebeg juga dilakukan di Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Dalam tradisi di kedua Kraton - yang dibagikan dan diperebutkan biasanya berupa palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan.

Dan sekarang . . . . .

Kita mengenal Grebeg Sudiro. Tradisi baru memperebutkan kue keranjang yang merupakan kue orang Tionghoa untuk merayakan Imlek - yang diarak dalam dua buah Gunungan - Gunungan Jaler dan Gunungan Estri - yang sangat jelas kental bernuansa budaya Jawa.

Grebeg Sudiro sekarang telah secara resmi dimasukkan dalam acara Kegiatan Budaya Tahunan oleh Pemerintah Kota Surakarta dalam rangka promosi pariwisata. Kegiatan Budaya ini baru berusia tiga tahun - dan disisipkan sebagai bagian dari Perayaan Hari Raya Imlek. Grebeg Sudiro yang berlangsung pada tanggal 7 Pebruari 2010 merupakan Grebeg Sudiro yang ke tiga kalinya.

Tradisi baru yang merupakan suatu pembauran budaya - antara tradisi Jawa dan Tionghoa ini - pertama kali dicetuskan oleh warga Sudiroprajan. Kepala Kelurahan Sudiroprajan beserta jajaran aparatnya - para budayawan dan tokoh masyarakat dan LSM di Kelurahan - yang sungguh patut diacungi jempol karena peran mereka yang telah secara aktif mendorong terlaksananya Kegiatan Budaya baru yang sungguh indah dan membangun rasa persatuan ini.

Sebagai catatan - Kelurahan Sudiroprajan terletak di daerah Pecinan tepat di pusat kota Solo - dimana Pasar Besar termasuk di dalamnya. Penduduk Sudiroprajan yang terdiri dari cukup banyak warga etnis Tionghoa telah sejak lama dikenal berinteraksi secara harmonis dengan penduduk suku Jawa di sana. Perkawinan pembauran telah menjadi hal yang biasa terjadi di daerah Sudiroprajan ini.

Pemberkatan ke dua Gunungan dilakukan di Kelenteng Tien Kok Sie - yang lokasinya berada tepat di depan Pintu Utama Pasar Besar. Sebelum kue keranjang dalam Gunungan dibagikan - atau lebih tepatnya diperebutkan - oleh para pengunjung, diadakan kirab Liong dan Barongsai yang sebelum turun ke jalan telah pula meminta pemberkatan di Kelenteng Tien Kok Sie.

Dalam Grebeg Sudiro Tahun 2010 ini - kesenian Liong dan Barongsai yang bernuansa Tionghoa berkolaborasi dengan dengan unsur-unsur kesenian Jawa yang terdiri dari Kesenian Reog Ponorogo, kesenian Topeng Ireng, Kelompok Batik Carnival dan Kelompok Kesenian Merbabu serta tak ketinggalan kelompok Sepeda Onthel. Inilah sebuah Kolaborasi Budaya yang indah. Sebuah Akulturasi yang menyejukkan hati.

Daerah Pecinan Pasar Besar - tempat diadakannya Grebeg Sudiro ini dihiasi dengan ratusan buah Lampion - termasuk pula sebuah Lampion Raksasa yang dipasang tepat di atas Jam Pasar Gede. Pada malam hari - ratusan Lampion yang menyala - memberikan satu pemandangan yang sungguh indah dan sangat oriental.

Di Panggung Kehormatan - Bapak Walikota Solo atau Wakilnya - selalu hadir dalam setiap acara Grebeg Sudiro ini bersama dengan para Tokoh Masyarakat utamanya dari Sudiroprajan - beserta seluruh Elemen Perkumpulan Tionghoa yang ada di kota Solo yang sekarang ini terdiri dari P M S (Perkumpulan Masyarakat Surakarta), Fu Jing, Ho Hap, Perkumpulan Hakka dan MAKIN - Majelis Agama Khong Hu Cu Indonesia.

Kelenteng Tien Kok Sie di Pasar Besar - dalam acara Grebeg Sudiro - selalu menjadi pusat perhatian karena pemberkatan kue keranjang dalam Gunungan Jaler dan Gunungan Estri dilakukan di sini - demikian pula pemberkatan seluruh Liong dan Barongsai yang berpartisipasi dalam acara Grebeg ini. Kelenteng - pun berpartisipasi aktif dan dengan gembira menyambut acara Kegiatan Budaya yang satu ini.

Saya menaruh hormat pada Ketua Pengurus Kelenteng - dan jajarannya - yang tampak sangat antusias dan pro-aktif dalam menyikapi sebuah fenomena Pembauran Budaya yang kita kenal sebagai Grebeg Sudiro ini. Saya pikir - ini adalah sikap yang benar dan sungguh diharapkan dari Para Pemimpin Masyarakat Tionghoa. Sebuah Pembauran Budaya - sebuah Akulturasi indah antara Budaya Jawa dan Tionghoa sangat patut disambut dengan penuh antusias - terutama di kota Solo ini - agar hubungan antara etnis Tionghoa dan Jawa terjalin semakin baik di masa-masa mendatang.

Pembauran Budaya antara Budaya TIonghoa dan Jawa - sesungguhnya apabila kita teliti dan renungkan - telah secara alami terjadi sejak lama.

Dalam hal kuliner - misalnya - berapa banyak makanan yang ada di Indonesia yang sesungguhnya berasal dari Tiongkok? Jumlahnya adalah - sangat sangat banyak. Sebut saja - bakmi, bihun, bakso, tahu, bakmoy, sio-may, capjay, cin-cau, kecap, lon-tong, pia-pia, kue onde, kue-ku, kue wajik (bukankah kata kue in berasal dari Bahasa Hokkian?), bakpia, lumpia - dan juga minuman seperti wedang ronde dan wedang angslee - mereka semua berasal dari Tiongkok. Dan ini pun belum semuanya.

Dan - pembauran atau apa pun istilahnya - terjadi di sana. Lun-pia ala Tiongkok menjadi Lumpia Semarang. Bakpia ala Tiongkok menjadi Bakpia Pathuk ala Yogyakarta. Bakso ala Rumah Makan Tionghoa yang setahu saya tak pernah menyertakan brambang goreng dan daun seledri - menjadi Bakso ala pak Pawirorejo alias Bakso Klewer yang terkenal di kota Solo. Dan sekarang malahan ada yang namanya Bakmi Jawa. Apakah ini bukan sebuah Akulturasi ?

Kemudian juga - beberapa teman saya - umat Kelenteng ber-etnis Tionghoa kadang melakukan Puasa Senin Kamis - atau bahkan juga Puasa Mutih. Ada yang melakukan Tirakat ketika berziarah ke satu tempat yang dianggap sakral - misalnya ketika berkunjung ketempat Pertapaan Tan Tiek Sioe Sian - Petapa Sakti dari Gunung Wilis yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa. Laku-Laku semacam puasa Senin Kamis, puasa Mutih dan Tirakat - bukankah ini juga merupakan sebuah pembauran budaya dalam laku spiritual ?

Kembali ke Grebeg Sudiro. Jelaslah bahwa Grebeg Sudiro adalah sebuah Pembauran Budaya yang bernilai amat positip bagi hubungan antara etnis Tionghoa dan Jawa - yang kebetulan dimulai di kota Solo. Kegiatan Budaya ini adalah sebuah Akulturasi indah yang harus didukung secara penuh oleh segenap warga Tionghoa di kota Solo.

Grebeg Sudiro adalah sebuah permulaan yang baik. Para Pemimpin Masyarakat Tionghoa seyogyanya menyadarinya dan menyikapinya secara benar dan bijak. Pembauran Budaya adalah sebuah Dialog Batin yang indah - yang harus dipertahankan, dipelihara dan dilestarikan.

Grebeg Sudiro ibarat sebuah kue Ampyang. Ampyang di Solo sering disebut sebagai kue pembauran karena Ampyang terbuat dari Gula Jawa dan Kacang Cina. Bahkan - anak hasil perkawinan antara etnis Tionghoa dan Jawa sering secara berkelakar disebut sebagai Ampyang.

Ampyang adalah sebuah kue kering yang enak rasanya. Manis di Rasa - Nikmat di Hati. Demikian juga Grebeg Sudiro yang Enak di Rasa - dan Nyaman di Hati. Biarkan tradisi lokal menjadi bagian dan mewarnai Perayaan Imlek - dan biarkan Imlek menjadi bagian dari tradisi lokal. Semua ini terangkum dengan manis dalam Grebeg Sudiro. Warga Tionghoa seyogyanya mendukung penuh. Semoga - semoga pembauran indah ini menyebar ke se-antero Nusantara. Ini sebuah pembauran budaya yang menyegarkan dan menyejukkan !

Dengan semangat Pembauran Budaya - mari kita songsong bersama Tahun Macan Logam 2561 yang akan segera tiba.

Xin Cun Gong Xi !
Rahayu ! Rahayu !
Shanti. Shanti. Shanti.

Senin, 01 Februari 2010

24. Kue Ranjang ?






























Atas    -  Kue Keranjang  ini Negeri Jiran poenja. Kemasannya lebih menarik dan mereka sebut kue ini ' Kuih Bakul ' 
Bawah - Kue Keranjang buatan Lokal

Saya sungguh heran kenapa banyak orang menyebut kue yang satu ini kue ranjang. Kue ranjang? Apa hubungannya dengan ranjang? Biasanya kalau saya mendengar orang menyebut kue ranjang - saya akan langsung mengoreksi ' Oh . . . yang dimaksud . . . kue keranjang ta? '


Tapi ternyata yang menyebut kue ranjang sangat banyak. Bukan hanya bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas dan mbak-mbak. Ternyata - tante-tante, oom-oom, engkoh-engkoh dan tacik-tacik sama juga. Lama-lama saya jadi stres sendiri. Sekarang kalau ada yang menyebut kue ranjang - saya diam saja. Kue ranjang? Ah - kue ranjang ya karepmu.


Tentu nama yang benar adalah kue keranjang. Kan di Medan dan Malaysia - orang menyebutnya kuih bakul. Bakul itu kan keranjang. Jelas kan duduk soalnya?

Sedangkan dalam Bahasa Mandarin - kue ini disebut dengan nama Nien Kao dan dalam Dialek Hokkian-nya menjadi Ni Kwee. Konon kata ' kue ' dalam Bahasa Indonesia berasal dari kata ' kwee ' Bahasa Hokkian ini. Nien atau Ni artinya tahun - jadi kue keranjang ini memang adalah kue tahunan - yang dibuat hanya pada masa-masa menjelang Hari Raya Imlek - dan sekaligus menjadi bagian penting darinya.

Kue ini sebenarnya semacam kue dodol. Terbuat dari tepung ketan, gula dan minyak sawit. Tentu juga dengan aroma rasa. Biasanya yang paling umum - tradisional - itu rasa coklat dari campuran gula merah/gula kelapa. Juga ada yang ditambah coklat beneran. Atau juga rasa moka, atau vanili, pandan - bahkan juga rasa durian. Belakangan ada bahkan kue keranjang dengan aroma rasa strawberi. Kalau yang ini - saya pribadi lho - kok nggak cocok. Masa kue keranjang rasa strawberi. Kayaknya aneh. Ini jelas nyalahi pakem. Kue keranjang strawberi - walah walah.

Soal cara menikmatinya. Ada yang memakannya begitu saja. Seperti makan kue dodol. Ya tentu boleh-boleh saja - ini kan soal selera. Tapi kalau mau maknyuus di lidah - coba diiris tipis-tipis dan digoreng dengan campuran tepung terigu plus telur ayam. Wah - kalau begini - bisa maknyuus tenan - rasanya.

Di kota kelahiran saya - Solo - kue keranjang dijual di daerah Pecinan utamanya. Tapi sekarang kue ini sudah juga merambah masuk - terjual pula di supermarket-supermarket - hypermarket dan juga di mal-mal. Bahkan juga - di daerah pinggiran - di toko toko kecil pun kadang kita temukan pula kue Imlek yang unik ini. Tapi - kalau bicara pakar- penjual kue keranjang yang sudah puluhan tahun di kota Solo - ada di daerah Pasar Besar dan sekitar. Sebut saja yang namanya koh Gian - Toko Sinar : koh Ciang - Toko Kageha : di toko-nya koh Hien - toko tanpa nama di Pasar Besar dan juga di Jalan Cokronegaran - tanpa nama tapi toh laris dan banyak dikenal - dan juga koh Han - Toko Roti Jaya Abadi. Wah - engkoh-engkoh ini sudah puluhan tahun jualan kue keranjang di tokonya - jadi kalau mau tanya masalah kue keranjang tentu mereka pakarnya.

Di jaman jadul - tempo doeloe - kue keranjang dibuat dalam kemasan daun pisang. Sekarang sudah cukup susah menemukan kue keranjang yang dalam kemasan daun pisang. Saya sendiri lebih menyukai yang dalam kemasan daun pisang model jadul ini. Saya pikir lebih sehat karena tidak langsung terbungkus plastik. Dan setelah mencari kesana-kemari beberapa waktu yang lalu akhirnya saya temukan juga kue keranjang ala jadul bukan di tempat empat engkoh-engkoh tadi tapi di sebuah rumah makan - Cafe Star - yang ternyata selalu tiap tahun menjual kue keranjang model tempo doeloe ini.

Harga kue keranjang tahun ini - berkisar dari 14.000 rp per kilogram - ini mungkin yang temurah - hingga 30 - 40.000 rp yang buatan lokal. Kue keranjang buatan Negeri Jiran - lebih mahal - harganya berkisar dari 50- 60.000 rp per kilogram . Yang dari Negeri Jiran ini harus diakui kemasannya sangat menarik . Cuman yang impor punya ini bisa tahan satu tahun seperti tertulis pada tanggal kadaluwarsanya. Lho - kok lama bener ya - wah kok rasanya malah jadi nggak enak. Satu tahun? Biasanya kue keranjang per kilogram terdiri dari 4 kemasan kecil atau 3 kemasan tanggung atau 2 kemasan besar. Harga yang bervariasi dari 14.000 rp hingga 60.000 rp ini bagus juga karena menjadikan kue keranjang cukup terjangkau. Baik buat mereka yang sedang agak bokek maupun mereka yang kebetulan sedang tajir.

Ada cerita menarik tentang kue keranjang ini sebagai kue persembahan. Konon orang Tionghoa percaya bahwa seminggu sebelum Tahun baru Imlek - tepatnya pada tanggal 24 - bulan duabelas Imlek tahun sebelumnya - yang namanya Toa Pe Kong Dapur alias Dewa Dapur alias - Kongco Ciao Kun Kong - akan naik ke langit untuk melaporkan tingkah laku para penghuni tiap rumah tangga keluarga Tionghoa. Ini akan jadi rapor tahunan dari tiap keluarga Tionghoa.

Tentu yang dilaporkan berharap bahwa laporan Kongco Dewa Dapur tentang rumahtangga mereka yang bagus-bagus saja. Kan dilaporkan ke langit - nah kalau laporannya jelek kan bisa gawat tenan. Makanya - ada ada saja kiat yang dilakukan supaya laporan jadi bagus dan oke. Pada jaman dulu konon - pada malam 24 sembahyang pada Dewa Dapur ini - mulut sang Dewa Pelapor sengaja dilumuri madu manis agar nanti laporan yang keluar manis-manis. Juga dalam sesaji persembahan selalu disertakan berbagai jenis manisan - juga konon dengan maksud yang sama. Dan kue keranjang. Ada teman saya yang mengatakan bahwa kue keranjang yang terbuat dari ketan dan memang yang kalau dimakan terasa lengket melekat di gigi dan lidah ini - sengaja dipersembahkan agar sang Dewa Pelapor nanti pada waktu tiba di langit dan makan kue keranjang kesulitan untuk bicara banyak - lha kan sedang makan makanan yang lengket di mulut. Jadi laporan-nya jadi singkat saja. Ah - ini kan cerita saja - memang ada ada saja pikiran orang untuk buat dirinya dilaporkan baik-baik saja.

Tradisi keagamaan Tionghoa kadang memang penuh dengan hal-hal menarik dan tak terduga. Saya tidak akan bicara akademis tentang hal ini - tapi kalau anda ingin mengerti bagaimana pemikiran keagamaan Tionghoa bisa sangat berbeda dengan tradisi pemikiran orang Barat - misalnya dalam memandang para Suci/ para Dewa - anda dapat membaca buku klasik karangan seorang ahli Budaya Tiongkok. Dalam bukunya yang berjudul ' Americans and Chinese - Passage to Differences ' Prof. Francis Hsu membeberkan panjang lebar tentang perbedaan pemikiran Barat - khususnya Amerika dan pemikiran orang Tionghoa dalam berbagai aspek kehidupan. Sebuah buku klasik yang sangat menarik dan tebalnya lebih dari 500 halaman. Budaya Barat yang cenderung Hitam - Putih memang punya pandangan keagamaan yang sangat berbeda dengan pandangan tradisi Tionghoa.

Tapi ini kan tulisan tentang kue keranjang - dan bukan sebuah telaah akademis. Makanya saya batasi diri - saya tidak akan berbicara dengan satu telaah yang serius mengenai pandangan keagamaan Tionghoa. Ada tempatnya sendiri. Di sini saya hanya ingin memperkenalkan satu kue unik bernama kue keranjang yang selalu saja keliru disebut kue ranjang - kue maha penting dan yang selalu muncul dalam satu perayaan Tahun Baru Imlek.

Last but not least - sebentar lagi Sin Cia tiba. Tahun Baru Imlek sudah diambang pintu. Dan nanti tanggal 7 Pebruari - seminggu sebelum Imlek - Kongco Ciao Kun Kong - sang Dewa Dapur akan naik ke langit melaporkan kita punya kelakuan dan perbuatan selama setahun ini. Apakah kita sekeluarga ini be-sai atau e-sai , ceng-li atawa bo- ceng li.

Saya ucapkan saja - Selamat merayakan Tahun baru Imlek 2561.

Xin Cun Gong Xi ! Gong Xi Fat Chai !